Dibalik Kemeriahan Pawai Budaya

Ngantuk dan capek. Itu jelas dirasakan anak2 gayam 16 ketika ikut terlibat dalam kemeriahan Pawai Budaya Nusantara yang mengusung judul “SATA WARSA AMBUKA BUDAYA”.

Banyak suka duka yang terjadi selama proses persiapan di Jakarta maupun sebelumnya di Jogja. Pontang panting, survei sana, survei sini, dan begadang sampai larut malam sudah menjadi hal yang biasa. Dari proses desain, ide dan kreativitas masing2 divisipun diuji. Tentu saja dengan sudah menyesuaikan dengan tema yang di usung.

Pasukan berkuda Polri mengawali jalannya pawai,kemudian diikuti dengan Drum Band Taruna Akademi TNI. Dibelakangnya, mengantar para peserta dari 33 provinsi adalah tiga buah gunungan dengan diiringi sekitar 120 penari. Gunungan yang pertama adalah Gununungan Bunga yang melambangkan masa keemasan jaman Majapahit. Dibelakangnya adalah Gunungan Buah yang melambangkan masa 1908 s/d 1945, dan gunungan ke tiga adalah Gunungan Sayur yang melambangkan masa setelah kemerdekaan.

Setelah diawali dengan masuknya tiga gunungan, dibelakangnya adalah barisan kontingen dari 33 provinsi, yang diawali dengan provinsi Bali, Bangka Belitung, Banten ,dst. Iring-iringan pawai di tutup dengan Gunungan kaca yang diiringi oleh sekitar 52 penari modern dance, dan 40 skater & roller.

Proses panjang menyertai Kemegahan kempat Gunungan. Bagai cerita Roro Jonggrang dan seribu candi, keempat gunungan terutama Gunungan Bunga, Buah dan Gunungan Sayur juga di selesaikan dalam satu malam menjelang hari H.

Team pawai yang bertanggungjawab menyelesaikan Gunungan tersebut sampai2 memaksakan diri untuk tetap kuat melek sampai pagi. Salut juga untuk cewe2 gayam 16 yang tangguh. Makasih untuk divisi Logistik yang selalu menjaga kebutuhan makan dan juga obat2an pendukung agar kami semua tetap kuat dan tidak “ambruk”. Meskipun begitu, karena memang beratnya pekerjaan, tetep saja ada beberapa orang yang jatuh sakit.

Semoga pengalaman ini menjadikan kami tetap kuat menghadapi segala yang menghadang di depan sana. Walaupun banyak kekurangan di sana-sini, namun semua terbayar dengan Kelancaran dan kemeriahan Pawai Budaya Nusantara.

Terima kasih buat semua divisi yang terlibat. Divisi Pawai yang telah membangun keempat gunungan dengan tepat waktu, Kostum yang telah memberi warna pada setiap gunungan, Tari yang telah memberikan persembahan tari yang istimewa, Make Up yang telah membuat kami menjadi cantik dan ganteng.

Hari-hari Menjelang

Beberapa orang duduk melingkar. Bersila dengan penuh konsentrasi. Bukan untuk bermeditasi ataupun sedang merapatkan sesuatu yang serius, tapi sedang menikmati makan malam di sela hari yang melelahkan di satu ruangan teduh di jl.gayam no. 16. Ada sepiring tempe mendoan yang dipesan dari Aa’ delivery service. Ada juga semangkuk mie rebus yang sekarang telah menjadi makanan pokok warga gayam 16. Beberapa muka kusut yang kelelahan tampak merebahkan diri berbantalkan jaket coklat sambil memegang ponsel, memohon-mohon pada sang penyiar Hot Request GERONIMO untuk diputarkan lagunya Tompi.

….

(prosesi makan)

….

(si poet lagi otak-atik facebook)

….

Di sudut lain di dua buah meja kotak yang digabungkan, dua manusia sedang sibuk memutilasi selembar mika biru yang mahalnya minta ampun(hati-hati mas, ngga ada dana tambahan lho…). Bergeser sedikit ke timur, beralaskan lantai putih, si arsitek berkulit putih juga (sabunnya Shinzui), sedang berkonsentrasi membentuk model kecil2 untuk membangun piramida kaca gunungan kaca.

Aku menoleh ke kiri, memeriksa waktu yang sudah menunjukkan jam 01.20 wib. Tapi tampaknya pekerjaan yang melelahkan dan suara berisik di ruangan ini belum ada tanda2 untuk usai. Sudah menyipit mata ini memandangi layar laptop yang bersinar bagai cahaya pagi hari. Sepertinya laporan pandangan mata dari kegiatan menjelang hari2 keberangkatan ke Jakarta harus berakhir di sini.

SEMANGAT…..SEMANGAT….

TERUSKAN PERJUANGANMU TEMAN2…..!!! JANGAN CEPAT MENYERAH YAAAA…….!!!!