Hari-hari Menjelang

Beberapa orang duduk melingkar. Bersila dengan penuh konsentrasi. Bukan untuk bermeditasi ataupun sedang merapatkan sesuatu yang serius, tapi sedang menikmati makan malam di sela hari yang melelahkan di satu ruangan teduh di jl.gayam no. 16. Ada sepiring tempe mendoan yang dipesan dari Aa’ delivery service. Ada juga semangkuk mie rebus yang sekarang telah menjadi makanan pokok warga gayam 16. Beberapa muka kusut yang kelelahan tampak merebahkan diri berbantalkan jaket coklat sambil memegang ponsel, memohon-mohon pada sang penyiar Hot Request GERONIMO untuk diputarkan lagunya Tompi.

….

(prosesi makan)

….

(si poet lagi otak-atik facebook)

….

Di sudut lain di dua buah meja kotak yang digabungkan, dua manusia sedang sibuk memutilasi selembar mika biru yang mahalnya minta ampun(hati-hati mas, ngga ada dana tambahan lho…). Bergeser sedikit ke timur, beralaskan lantai putih, si arsitek berkulit putih juga (sabunnya Shinzui), sedang berkonsentrasi membentuk model kecil2 untuk membangun piramida kaca gunungan kaca.

Aku menoleh ke kiri, memeriksa waktu yang sudah menunjukkan jam 01.20 wib. Tapi tampaknya pekerjaan yang melelahkan dan suara berisik di ruangan ini belum ada tanda2 untuk usai. Sudah menyipit mata ini memandangi layar laptop yang bersinar bagai cahaya pagi hari. Sepertinya laporan pandangan mata dari kegiatan menjelang hari2 keberangkatan ke Jakarta harus berakhir di sini.

SEMANGAT…..SEMANGAT….

TERUSKAN PERJUANGANMU TEMAN2…..!!! JANGAN CEPAT MENYERAH YAAAA…….!!!!